Jumat, 21 September 2012

SMA Negeri 1 Bandung


SMA Negeri 1 Bandung

Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bandung
Data Sekolah
Berdiri:
Alamat Lengkap:
Jl. Ir. H. Juanda No. 93, Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Bandung, Jawa Barat, Indonesia, Kode Pos: 40132
Nomor Telepon/Fax:
+62 22 2503948
Website Resmi:
Kepala Sekolah:
Dra. Hj. Emi Yuliaty, M.Pd (2008 s.d. sekarang)
Jumlah Kelas:
9 kelas setiap tingkat
Program Jurusan:
IPA dan IPS
Rentang Kelas:
X, XI IPA, XI IPS, XII IPA, XII IPS
Kurikulum:
Jumlah Siswa:
1.036 siswa (38 siswa per kelas)
NEM Masuk terendah:
37,05 (2011)
NEM Masuk tertinggi:
38,70 (2011)
NEM Masuk rata-rata:
37,88 (2011)
Status sekolah:
Negeri Kluster 2

SMA Negeri (SMAN) 1 Bandung, merupakan salah satu Sekolah menengah atas Negeri yang ada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia masa pendidikan sekolah di SMAN 1 Bandung ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII. Didirikan pada tahun 1950.

Pada tahun 2007, sekolah ini menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebelumnya dengan KBK.
Sejarah Sekolah
  • 1950
Pada tahun-tahun setelah pengakuan kedaulatan, di Bandung telah berdiri sebuah SMA yang dikenal dengan sebutan SMA PARKI (Pasundan) di bawah pimpinan Bapak Among Praja. Sekolah ini menempati sebuah bangunan di Jalan Pasundan, kemudian pindah ke Jalan Sumatera 36A Bandung (sekarang gedung tersebut dipakai oleh SMP Negeri 5 Bandung). Tahun pelajaran 1950/1951 atau tepatnya tanggal 1 Agustus 1950, SMA PARKI menjadi SMA Negeri. Sejak itu SMA PARKI menjadi SMA NEGERI III Bandung dengan dua jurusan, yaitu bagian A dan Bagian B yang dipimpin oleh ibu Sutjinah. Sayang ibu Sutjiah tidak bisa lebih lama mengasuh SMA Negeri III ini, karena harus mengikuti suaminya yang bertugas di luar Pulau Jawa. Dan sebagai gantinya adalah bapak Nawawi.
  • 1951
Di bawah asuhan Pak Nawawi, roda perkembangan SMA ini semakin hari semakin lancar. Sayang, pada tahun pelajaran 1952/1953 Pak Nawawi meninggalkan SMA III karena kesibukannya sebagai anggota DPR. Jabatan Kepala SMA Negeri III dilanjutkan oleh wakilnya.
  • 1953
Pak M.I.Kartadipradja tak henti-hentinya memeras otak unruk kemajuan SMA III ini. Pada tahun ajaran 1953/1954, SMA III memasuki tahun ketiga- masa bayi telah lewat untuk segera menginjak masa kanak-kanak. Kemudian tibalah surat keputusan dari pemerintah. Kepemerintahan Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan bahwa SMA III dibagi dua, yaitu :
· SMA IIIA Bagian Bahasa dipimpin oleh Pak MI. Kartadipradja dan
· SMA IIIB Bagian Ilmu Pasti dipimpin oleh Pak Tjetje Djajadisastra
Kedua sekolah ini menggunakan gedung di Jl. Sumatera No. 36A dab Jl. Jawa No. 5 yang sekarang dipakai oleh SMP Negeri 2 Bandung dan SMP Negeri 5 Bandung.
  • 1956
Tiga tahun kemudian tepatnya bulan Agustus 1956, sekolah mendapat pergantian nama SMA Negeri IIIA menjadi SMA Negeri IA, sedangkan SMA Negeri IIIB menjadi SMA Negeri IVB.
  • 1958
Pada tanggal 1 Agustus 1958 kedua ‘saudara kandung’ ini berpisah. SMA IA dipindahkan ke daerah Bandung Utara, menempati sebuah gedung Lyceum di Jl. Dago. Sedangkan SMA IVB berubah status menjadi SMA Negeri IV. Menjelang pindahnya SMA IA ke daerah Dago, Pak M.I. Kartadipradja memasuki masa pensiun. Sehingga pada saat hijrah tersebut pimpinan sekolah ditangani oleh Pak Otong Suraatmadja. Suasana dan keadaan sekolah banyak mengalami kemajuan. Formasi staf pengajar dan tata usaha lebih lengkap. Sarana sekolah disempurnakan, mutu pelajaran dan prestasi siswanya terus meningkat. Bidang olahraga bisa dibanggakan, demikian pula di bidang kesenian. Setelah sekitar enam tahun Pak Otong Suraatmadja membaktikan dirinya untuk SMA Negeri IA. Tibalah saatnya beliau menikmati masa pensiunnya.
  • 1964
Drs. Abdullah Djumantradja secara resmi memimpin SMA IA mulai 2 November 1964. Sebelumnya beliau adalah Kepala SMA Negeri Purwakarta. Di bawah kepemimpinan beliau SMA IA bertambah harum. Ruangan guru bertambah, ketertiban sekolah, bidang olah raga, dan bidang kesenian pun semakin dikenal di masyarakat.
  • 1965
Juli 1965 merupakan tahun penyempuraan di bidang pendidikan. Untuk pertama kalinya SMAN IA membuka jurusan Ilmu Hayat, Ilmu Sosial dan Sastra Budaya. Sesuai dengan penamban jurusan yang didasarkan pada peraturan pemerintah, nama SMAN IA pun diubah menjadi SMA Negeri 1 Bandung.
  • 1968
SMA Negeri 1 Bandung diubah lagi namanya menjadi SMAN Jl. Ir.H.Djuanda 81/17 Bandung. Pada tahun 1971, Drs. H. Abdullah Djumantradja mendapatkan hak pensiun. Untuk sementara pimpinan sekolah dijabat oleh Pengawas dari Kantor Pembina SMA Propinsi Jabar, yakni Drs. Sidharta.
  • 1972
Mulai 11 Januari 1972, SMA 1 dipimpin oleh Drs. Asep Setiadi. Sebelumnya beliau adalah pimpinan SMAN Purwakarta. Beliaulah yang bercita-cita ingin membangun aula, yang kini dikenal dengan Aula SMAN 1. Aula ini sering digunakan sebagai tempat pertemuan antar Kepala SMP/SMA se-Kodya/Kabupaten Bandung bahkan se-Jabar, yang langsung dipimpin baik oleh Kepala Bidak Dikmenum maupun oleh Kepala Kanwil Depdikbud Propinsi Jabar. Pada tahun 1974 Drs. Asep Setiadi ditarik ke Kanwil Depdikbud Prop. Jabar sebagai Pengawas.
  • 1975
Drs. Hanafi yang sebelumnya sebagai Kepala SMAN Ujungberung mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh Bapak Drs. Asep Setiadi. Pada tahun ini pula SMAN Jl. Ir. H. Djuanda berubah nama menjadi SMA Negeri 1 Bandung hingga sekarang. Di bawah kepemimpinan beliau sekolah ini mencapai kemajuan yang pesat. Dalam waktu yang relatif singkat berbagai bidang mengalami peningkatan. Antara lain, melanjutkan pembangunan aula, pembangunan sarana Tata Usaha, Kantor Guru. Kantin, WC Ruru, Ruang belajar, Perpustakaan, Ruang OSIS, UKS, GIDEON dan yang mendapat bantuan dari Proyek Pelita, yaitu satu ruangan ketrampilan, satu ruangan laboratorium Kimia, Biologi, dan Fisika, halaman parkir dan lapangan basket yang berfungsi sebagai tempat Upacara Bendera. Di bidang edukatif secara berkala diadakan berbagai penataran, meningkatkan prestasi siswa, meningkatkan disiplin, mempertinggi taraf mutu pendidikan, mengembangkan keterampilan dan kesenian, mendirikan laboratorium Bahasa (untuk sementara memakai ruangan belajar) demikian pula bidang olahraga tidak luput dari perhatiannya.
  • 1985
Bidang edukatif mengalami perubahan sistem, tepatnya pada awal tahun pelajaran 1985/1986, jurusan menjadi 3 Program, yaitu terdiri dari Program A.1 (ilmu-ilmu Fisika); Program A.2 (Ilmu-ilmu Biologi) dan Program A.3 (Ilmu-ilmu Sosial). Pada pertengahan bulan April 1985, Pak Hanafi meninggalkan SMAN 1. Setelah sekitar sepuluh tahun beliau membina, SMA 1 ini menjadi sekolah yang mempunyai nama di masyarakat. Sebelum beliau pindah ke Kanwil Depdikbud Propinsi Jabar sebagai pengawas, semangat mengelola Filial SMAN 1 Bandung di daerah Lembang. Yang kini telah mandiri sebagai SMAN 1 Lembang.
  • 1986
Drs. Eddy Permadi menggantikan Pak Hanafi, beliau sebelumnya adalah Kepala SMA Sumedang. Beliau berusaha meningkatkan kemajuan sekolah ini, antara lain di bidang sarana sekolah, yaitu merampungkan pembangunan ruangan belajar berikut sarananya, penyempurnaan ruang perpustakaan, merehab aula. Dan atas usaha beliau pembangunan ruangan Laboratorium Bahasa dimulai dengan dana bantuan Proyek Pelita. Namun sebelum pembangunannya rampung, beliau mendapat tugas baru di Kanwil Depdikbud Propinsi Jabar sebagai Pengawas.
Bulan Juli 1986 Bapak Muharam yang sebelumnya adalah Kepala SMAN 11 Bandung memimpin sekolah ini. Banyak hal mendapat perhatian beliau, antara lain pembangunan ruang Piket Guru, reboisasi lingkungan sekolah dan lain-lain. Namun pada 12 Desember 1989 beliau mendapat tugas baru sebagai Pengawas di lingkungan Kanwil Depdikbud Propinsi Jabar
  • 1989
Sejak tanggal 2 Desember 1989 secara resmi Drs. Solichin Riva’i memimpin SMAN 1 Bandung. Usaha beliau antara lain merenovasi dua ruangan belajar, menyediakan seperangkat komputer guna keperluan siswa dan guru dalam menunjang KBM serta membangun ruangan khusus bagi para Pembantu Kepala Sekolah dan menambah perlengkapan ruangan Kepala Sekolah.
  • 1991
Beliau mendapat kepercayaan dari Depdikbud Prop. Jabar mengikuti pendidikan di Inggris, yaitu mengikuiti “Coutses of Further Professional Study” di University of Nottingham School of Nottingham, London.
  • 1994
Dra. Saetje Nitimihardja meneruskan kepimpinan Drs. Solichin Riva’i sebagai Kepala SMAN 1 tepatnya mulai 1 November 1994, yang sebelumnya beliau adalah Kepala SMAN 22 Bandung. Beliau dalam melaksanakan kepemimpinannya menerapkan motto 3D, yaitu Disiplin dalam bertugas, Dewasa dalam bertindak, dan Dinamis dalam kegiatan. Langkah awal dari pelaksanaan motto tersebut antara lain dimulai dengan meningkatkan kembali disiplin siswa, menutup pintu belakang dan pintu depan sebelah utara. Jadi keluar masuk ke lingkungan sekolah hanya melalui pintu depan sebelah selatan. Kemudian menyediakan dua tenaga satpam berikut ruangannya. Program lain yang sempat dilaksanakan selama kepemimpinan beliau antara lain adalah mempercantik lingkungan sekolah sedemikian rupa sehingga bersih, hijau dan membuat betah berada di lingkungan sekolah. Tempat parkir motor guru, karyawan dan siswa disatukan di suatu tempat, yaitu di depan ruangan Perpurtakaan. Begitu pula sarana dan prasarana pendidikan lainnya yaitu merenovasi Aula, meningkatkan pengadaan Sound System, Wireless dan memasang paving blok di seputar lapangan Basket dan tempat lainnya. Membangun taman Biologi, penataan sarana ibadah dan membangun sumber air baru dengan Jet Pump sebagai pengganti penggunaan air dari PDAM.
Kegiatan intrakurikuler semakin baik dengan adanya peningkatan NEM yang didapat siswa tahun ajaran 1995/1996. Kegiatan ekstrakurikuler semakin tertib dan meningkat dengan diperolehnya berbagai gelar juara oleh para siswanya. Dan pada awal tahun ajaran 1994/1995 mulai diberlakukan kurikulum baru 1994, yang menggantikan Kurikulun 1984. Sistem Program A.1, A.2 dan A.3 Diganti dengan sistem jurusan IPA jurusan IPS dan jurusan Bahasa.
  • 1996
Dra. Sadiyah Winarsih mulai 23 Desember 1996 memimpin SMA Negeri 1 ini menggantikan kepemimpinan Pak Kriyodono, yang sebelumnya ibu Sadiyah adalah Kepala SMA Negeri 2 Cimahi beliau adalah seorang pengajar senior di SMA Negeri 5 Bandung.
Langkah-langkah yang telah ditempuh oleh ibu Sadiyah, antara lain, merenovasi mushola, kantin, aula, pagar halaman samping kiri dan depan sekolah berikut pembenahan tamannya baik yang berada di halaman dengan sekolah maupun di lingkungan dalam sekolah berikut kolam ikannya, pengaspalan halaman sekolah, merenovasi ruangan Perpustakaan pemasangan lantai keramik ruangan Tata Usaha. Guru Kepala Sekolah, membangun empat ruangan kegiatan ekstra kurikuler, ruangan piket guru, ruangan Koperasi Bina Sejahtera, membangun ruangan parkir motor khusus untuk guru dan siswa, membuat saluran baru khusus untuk pengadaan air minum dari PDAM, membangun Lab IPS, serta pemasangan jaringan internet. Dan yang paling membanggakan adalah bahwa ibu Hj. Sadiyah telah berhasil mengurus Sertikat Tanah SMA Negeri 1, ini terbukti dengan telah keluarnya Sertifikat (Tanda Bukti Hak) tertanggal 19 Agustus 1999 dari Kantor Pertanahan Kotamadya Bandung dengan nomor. 10.15.02.06.4.00011 dengan luas tanahnya sebesar 8.450 Meter persegi. Hal ini dapat menepis berbagai issue/gosip di masyarakat bahwa SMA Negeri 1akan dipindahkan ke lokasi/tempat lain.
Di bidang tenaga pengajar telah mengijinkan tiga orang tenaga pengajar (Fisika dan Biologi ke Australia, Texas dan Mexico untuk menimba ilmu setingkat S2. Beliau juga telah berhasil membenahi Koperasi Guru dan Karyawan SMA Negeri 1 dengan baik sebagaimana layaknya koperasi yang telah berbadan hukum. Sementara prestasi siswa-siswinya pun tidak kalah menariknya. hal ini dapat dilihat pada rubrik tentang Prestasi siswa Tahun Pelajaran 1998/1999.
  • 2000
Bertempat di Aula SMA Negeri 1 Bandung, Dra. Hj. Sadiyah Winarsih pada hari Senin, 1 Mei 2000 menyerahkan tanggung jawab pengelolaan sekolah ini kepada Drs. H. Ruhaendi W sebagai Pejabat sementara dengan disaksikan oleh Kakandep Diknas Kota Bandung dan Staf. Beberapa Kepala SMA Negeri se-sub rayon Bandung Utara serta Staf Guru dan Tata Usaha SMAN 1. Pada tanggal tersebut di atas merupakan hari pertama ibu Hj Sadiyah memasuki masa pensiunnya setelah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan selama sekitar tiga dasawarsa, sementara Drs. Ruhaedi merupakan Kepala SMA Negeri 2 Bandung definitif. Mulai tanggal 11 Agustus 2000 secara resmi Drs. H. Ili Setiadi adalah Kepala SMA Negeri 7 Bandung. Bahkan sebelumnya beliau sejak diangkat sebagai Kepala SMA Negeri Jasinga Kab Bogor (1989) telah memimpin beberapa SMA, yaitu SMA Majalaya Kab. Bandung, Pymt Kepala SMAN Baleendah, Pymt Kepala SMAN Ciparay dan Kepala SMAN 24 Bandung (dulu SMA Negeri Ujungberung). Program yang dilaksanakan pada tahun 2000/2001 setelah melanjutkan program sebelumnya yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, juga harus mengikuti berbagai perubahan yang berkaitan dengan pelaksanaan Nuu No 22/1999 dan UU No.25/19999 tentang Otonomi Daerah dan Pembagian Kewenangan Pusat dan daerah yang membawa nuansa baru dalam pengelolaan sistem pendidikan. Nuansa baru itu antara lain dengan berkembangnya pemikiran yang bermuara pada upaya peningkatan kualitas pengelolaan pendidikan pada tataran tingkat sekolah, yaitu melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS sebagai suatu model implementasi kebijakan desentralisasi pendidikan merupakan suatu konsep inovatif dan strategis ke arah peningkatan mutu pendidikan melalui pendekatan manajemen sekolah. Dalam hubungannya dengan model MBS, keberadaan Dewan Sekolah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Dewan Sekolah, artinya secara substantif peran dan fungsi kelembagaan BP3/Kopmite sekolah akan larut dan melebur dengan Dewan Sekolah. Berkaitan dengan harapan untuk menghasilkan mutu yang baik konsep MBS haru memperhatikan aspek-aspek mutu yang harus dikendalikan secara komperensip yaitu :
· Karakter mutu pendidikan, baik input, proses maupun output
· Pembiayaan
· Metode penyampaian bahan pelajaran
· Pelayanan kepada siswa dan orang tua/masyarakat
Sesuai dengan aspek-aspek yang harus dikendalikan tersebut di atas, maka mulai tahun pelajaran 2001/2002, sekolah kita akan mengupayakan optimalisasi penggunaan waktu belajar dari dua ship menjadi satub ship ( KBM semua kelas berlangsung pagi). Salah satu alternatif pemecahan yang dapat dipilih untuk itu adalah denggan cara mengurangi jumlah rombongan belajar secara bertahap, misalnya, untuk tahun pelajaran 2001/2002 jumlah rombongan belajar kelas 1 hanya menerima 9 (sembilan) kelas. Diharapkan pada tahun pelajaran 2003/2004 semua tingkatan dapat belajar pada waktu pagi hari saja. Pada waktu siang harinya dapat dimanfaatkan unt7uk peningkatan lainnya, seperti ekskul, komputer, pemantapan belajar, dll.
  • 2003
Pada 1 Juni 2003 Pak Drs. H. Ili Setiadi memasuki masa purna bakti/ pensiun. Telah banyak yang telah diperbuat oleh beliau selama memimpin sekolah ini. Di antaranya, mulai tahun pelajaran 2002/2003 KBM dilaksanakan pada pagi hingga siang untuk seluruh kelas. Sehingga jumlah kelaspun menyusut, yang pada tahun pelajaran sebelumnya jumlah kelas sebanyak 33 kelas (kelas 1,2 dan 3 masing-masing berjumlah 11 kelas). Kini jumlah hanya 27 kelas, yakni kelas 1, 2 dan kelas 3 maing-masing berjumlah 9 kelas. Kemudian pada awal tahun pelajaran 2002/2003 Pak H. Ili telah membentuk Komite Sekolah SMA Negeri 1 Bandung, sesuai dengan Keputusan Mendiknas No. 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan Kota dan Komite Sekolah. Berdasarkan Surat Tugas dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung No. 800/1714/TU/2003 tentang Penugasan sebagai Pelaksana Tugas/PLT Kepala SMA Negeri 1 Bandung, mulai tanggal 5 Juni 2003 Drs. Nana Suarna H.MM memimpin SMA Negeri 1 Bandung sebagai PLT. Sebelumnya Drs. Nana Suarna H.MM, diangkat menjadi Kepala Sekolah di : 1. SMA Negeri Malangbong Kab. Garut tahun 1993-1994 2. SMA Negeri 1 Garut Kota, tahun 1994-1998 3. - Pymt di SMAN Leeuwigoong Kab Garut 4. - Pymt di SMAN Pameungpeuk Kab Garut 5. - Pymt di SMAN Samarang Kab Garut 6. SMA Negeri 15 Bandung Tahun 1998-2001 7. SMA Negeri 22 Bandung tahun 2001-2002 8. SMA Negeri 5 Bandung tahun 2002 Kemudian pada tanggal 27 Juni 2003 keluar Surat Perintah swebagai Pelaksana Tugas Kepala SMU Negeri 1 Bandung dari Walikota Bandung kepada Drs Enjang Wirahmana menggantikan Drs. Nana Suarna. MM. Drs. Toni Sutisna, M.Pd dilahirkan di Bandung pada bulan November 1955. Adapun perjalanan karir beliau hingga menjadi Kepala SMA N egeri 1 Bandung, diawali menjadi tenaga Guru tidak tetap di SMA Negeri 9 Bandung pada tahun 1982-1983. Kemudian terhitung mulai tanggal 1 Marewt 1983 beliau diangkat menjadi Guru Tetap di SMA Negeri Jatibarang Kabupaten Indramayu. Mulai tahun 1986 sampai dengan tahun 1995 selain sebagai guru tetap di SMA Negeri Jatibarang, beliau juga memangku jabatan sebagai Kepala SMA Swasta PUI Jatibarang Kabupaten Indramayu berdasarkan Surat Keputusan Yayasan PUI dan izin pimpinan dari Kepala Bidang Dikmenum Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Baarat. Adapun perjalanan kariri beliau secara lengkap, antara lain : 1. Tahun 1996 diangkat Kepala SMA Negeri 1 Cibeber Kabupaten Cianjur 2. Tahun 1998 merangkap sebagai Pejabat Yang Melaksanakan Tugas (PYMT) Kepala SMA Negeri Warung Kondang Kabupaten Cianjur 3. Tahun 19999 alih tugas, menjadi Kepala SMA Negeri 17 Bandung 4. Tahun 2001 beralih tugas ke SMA Negeri 15 sebagai Kepala Sekolah dan pada tahun 2002 mendapat penghargaan dari Kepala Dinas Pendidikan Prop[insi Jawa Barat sebagai Kepala Sekolah Berprestasi. 5. Pada tanggal 1 April 2004 dilantik oleh Walikota Bandung menjadi Kepala SMA Negeri 1 Bandung.
  • 2006
Drs. H. Djedje Djaenudin terhitung tanggal 1 April 2006 menggantikan Drs .Toni Sutisna,M.Pd untuk mempin SMA Negeri 1 Bandung. Beliau merupakan Kepala Sekolah SMA Negeri 13 Bandung. Adapun yang patut dipuji adalah beliau berhasil mendirikan Masjid Al’Mamur dengan terlebih dahulu memindahkan rumah penduduk yang berada di lingkungan SMA Negeri 1 Bandung
  • 2008
Dra. Hj. Emi Yuliaty, M.Pd terhitung efektif mulai tanggal 1 April 2008. menjadi Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Bandung .Beliau adalah Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Bandung, saat ini Ibu Dra. Hj. Emi Yuliaty, M.Pd berusaha untuk meneruskan program yang belum selesai pada masa Kepala sekolah yang terdahulu
Fasilitas
Berbagai fasilitas dimiliki SMAN 1 Bandung untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Fasilitas tersebut antara lain:
  • Ruang Kelas
  • Masjid Al-Ma'mur SMAN 1 Bandung
  • Perpustakaan
  • Laboratorium Biologi
  • Laboratorium Fisika
  • Laboratorium Kimia
  • Laboratorium IPS
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Bahasa
  • Lapangan Upacara
  • Lapangan Basket
  • Lapangan Voli
  • Lapangan Bulu Tangkis
  • Aula SMAN 1 Bandung
  • Ruang UKS
  • Berbagai Ruang Ekstrakulikuler
  • Kantin Sehat SMAN 1 Bandung
  • Ruang Parkir
Ekstrakurikuler
SMA Negeri 1 memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler, diantaranya,
  • Paskibra
  • Palang Merah Remaja (PMR)
  • Pramuka
  • IKARIS (Ikatan Remaja Islam)
  • Ascot
  • Basket
  • PB Djuanda '93
  • Angklung
  • Teater AH
  • SECRET (One's Cinematography Creative Team)
  • Paduan Suara
  • Vocal Group
  • 日本 (Nihon Bu)
  • English Club
  • GIDEON
  • Hiji (Himpunan Jurnalistik Independen)
  • AGD (Autodidak Grup Diskusi)
  • Cakrawala
  • Forest
  • LSS (Lingkung Seni Sunda)
  • KIR (Karya Ilmiah Remaja

Kamis, 20 September 2012

news


Indonesian Documentary Highlights Tribes Fighting Developers and Conservationists


A new documentary about a school in a remote rainforest in Indonesia highlights how education is helping indigenous people to stand up for their rights. In addition to learning to read and write, the students also learn how to organize themselves against outsiders. The students are confronting both the developers who want to cut down their tribe’s forests and the conservationists opposed to tribal foraging, hunting and fishing practices.
The documentary Guru Rimba, which means jungle teacher, is a profile of the teacher and students in a unique school located in the rainforests on the Indonesian island of Sumatra.

The film starts off showing the new teacher’s difficult journey to reach the remote classroom and it then shifts to focus on the lives of the children living in the school. From there it pivots again to show how the students are leading the efforts of the 3,000 Orang Rimba or jungle people in the Anak Dalam tribe to protect their land.

While the film struggles to maintain a coherent narrative, it features rarely seen footage of the children who attend the jungle school. It also provides a unique insight into how the modern world is threatening the indigenous people's traditional way of life.
Filmmaker Vivian Idris lived for weeks at a time in the mosquito-infested jungle and was given rare permission to film the students at the school.

“The most rewarding part, of course, also to be able to be part of their society," said Idris. "I mean, to sit with them, to sleep with them, to eat with them, you know.”

Idris says she was restricted for the most part from filming women. Girls are also not permitted to attend school which is located away from the villages. The boys who attend live at the school and study for weeks at a time.

The school was founded by anthropologist Butet Manurung over a decade ago. She says it took a year to overcome the suspicions of the indigenous people who saw no benefit to education and even believed pencils and pens to be taboo.

“They cannot even hold the pencil," she said. "They think it is an evil. Because every time they went to the market and selling their stuff, people in the market always have their pens, and then counting, and then always come up with the numbers they don't like.”

The indigenous people live in a designated national park area called Bukit 12. Manurung's educational outreach program was originally funded by Warsi, an environmental organization. Manurung eventually left Warsi because she did not agree with its conservationist curriculum advocating against any farming or even small land use projects in the park.

“I come with a different opinion,"she said. "I thought they need to know about life skills. They need to know what their right is and I want them to go for it by themselves.”

The Orang Rimba are caught between environmentalists and developers that are destroying Indonesian forests at the rate of 100 million hectares per year to make way mostly for lucrative palm oil farming.

Pengendum, a 20-year-old former student of the school, is now helping to organize the tribes to protect their way of life. He says the national park was made by the forest ministry without involving the jungle people and jungle people could be scattered because the rules do not involve us at all.

He says the school has given the Orang Rimba the academic skills and the confidence to stand up for their rights. And he hopes the documentary will tell their story to the world.

cerpen "Cinta Lingkungan"


“Jika bukan kita, Siapa lagi?”


Namaku Shafitry Dirgandhiny, teman-temanku biasa memanggilku Pitry. Saat ini aku duduk di kelas 3 SMP, aku bersekolah di SMP Negeri 1 Lembang. Salah satu sekolah yang sangat favorite di daerah Lembang. Saat ini aku telah selesai melaksanakan Ujian Nasional (UN), jadi aku dan teman-temanku sudah bebas. Maksudnya kita tidak belajar lagi, tapi ada tugas wajib dari sekolah untuk kita yaitu bakti sosial atau lebih sering kita sebut dengan baksos.
Memang ada salah satu kegiatan yang unik dari SMP Negeri 1 Lembang ini. Sudah dua tahun belakang ini ada tugas wajib untuk siswa-siswi kelas 9 yang telah melaksanakan ujian nasional. Tugas wajib itu adalah bakti sosial. Kegiatan ini bermaksud untuk memanfaatkan waktu kita sambil menunggu hasil kelulusan di umumkan. Selain memanfaatkan waktu, kita juga dapat membuat lingkungan Lembang ini menjadi lebih indah dan lebih bisa mencintai lingkungan kita.
Tadi pagi, aku dan teman-teman lainnya berkumpul di Alun-alun kota. Ternyata di Alun-alun kota itu tidak hanya ada siswa SMP Negeri 1 Lembang tetapi ada ibu-ibu PKK Jayagiri, Karang Taruna, dan alumni ITB tahun 1996. Kita bersiap untuk membersihkan tempat dari Alun-alun kota sampai SMP Negeri 1 Lembang. Setelah semua siswa dan semua yang akan mengikuti kegiatan bakti sosial ini sudah berkumpul, ada salah satu kegiatan yang seru. Sebelum memulai bakti sosial kita semua melakukan senam pagi terlebihdahulu. Dengan di pandu oleh seorang pelatih senam dan di dukung dengan musik yang membuat suasana menjadi semangat. Kita semua senam pagi bersama.
Saat sedang senam pagi, aku mengobrol dengan Resti yang ada di sebelahku
“Res, ibu-ibunya pada lincah” ucapku sambil tertawa.
“(tertawa) makannya jangan mau kalah, kita juga harus lebih lincah dari mereka” jawab Resti.
“iya dong, kita harus lebih lincah” ucapku sambil mengikuti gerakan senam.
“liat anak yang lain pada heboh” ucap Diona ikut-ikutan.
“kita harus lebih heboh lagi” jawab Resti sambil tertawa.
“oke” ucapku mengakhiri pembicaraan.
            Setelah senam pagi selesai, aku dan teman-teman beristirahat sejenak. Lalu kita berkumpul kembali, kita diberi plastik untuk memungut sampah di sekitar lokasi yang akan di bersihkan. Dan kita juga di beri sarung tangan plastik, supaya tangan kita tidak terlalu kotor saat akan memungut samapah. Satu plastik sambah untuk tiga orang, dan aku mendapat kelompok Fauziyyah, Resti dan aku.
“bareng oke!” ucap ku kepada Fauziyyah.
“oke, siapa aja?” tanya Fauziyyah.
“aku, Resti, kamu” jawabku sambil menunjuk.
“pit, beli minum dulu yu?” ajak Resti kepadaku.
“ayo, sebentar” ucapku sambil menyimpan tas dan menuju ke arah Resti.
            Lalu kita semua pun dikumpulkan kembali, dan diberi pengarahan untuk mengerjakan tugas kita. Setelah selesai diberi pengarahan, aku, Resti dan Fauziyyah memulai tugas kita.
            Saat mulai membersihkan sampah yang ada di sekitar area aku, Fauziyyah, dan Resti mendapat bagian sebelah kiri jalan. Kata guru-guru sampah yang paling berat akan mendapat sepeda. Jadi, semua siswa-siswi lebih bersemangat membereskan area. Aku, Fauziyyah dan Resti pun mercanda sambil memungut sampah yang berserakan.
“sini masukin batu aja biar berat” ucap Resti sambil tertawa.
Aku, Fauziyyah dan Resti pun  tertawa.
“resti,resti demi sepeda sampe segitunya” jawabku sambil tertawa.
“iyakan nanti kalo dapet sepeda ekspresinya yang datar” uacap Resti
“horee, saya dapat sepeda!” ucap Fauziyyah sambil berekspresi datar.
Kita pun tertawa lagi, lalu melanjutkan memungut sampah-sampah lagi.
            Sesudah selesai membersihkan sepanjang area, kita semua pun berkumpul kembali di Alun-alun kota untuk beristirahat. Setelah beristirahat sejenak aku dan teman-teman lainnya berkumpul untuk bermain games bersama. Di pandu oleh seseorang dari karang taruna setempat, kita semua bermain games yang sangat seru. Games yang diberikan cukup banyak,  dan kita semua sangat bahagia.
Dan diakhir ada beberapa hadiah yang di bagikan untuk orang-orang yang berani mengomandoi yel-yel yang telah kita sepakati bersama. Yel-yelnya itu ada dua, yang satu “kecamatan Lembang (mantap)” dan yang satunya lagi “masyarakat Lembang (eduun)”.
            Setelah acaranya selesai, aku, Resti, Miranti dan Diona pergi untuk makan mie ayam. Sayangnya Fauziyyah tidak bisa ikut karena tangan dia sensitif. Jadi bila terkena tanah, sabun, dan semua yang ada kuman dan bakteri tanagn dia akan mengelupas dan gatal-gatal. Maka tangannya harus cepat-cepat di olesi salep khusus.
            Saat sedang makan, aku, Resti, Miranti dan Diona pun mengobrol sambil bercanda tertawa-tawa. Dan, kita bercerita tentang betapa asiknya acara tadi. Kita tidak sabar menunggu hari esok, karna esok kita akan menanam pohon di area yang telah ditentukan. Betapa senangnya kita, dan tidak sabar menunggu hai itu.
***
            Hari senin tiba, aku dan teman-teman semua kelas 9 sudah berkumpul di sekolah jam  8 pagi. Kegiatan kita kali ini adalah menanam pohon di area yang telah di tentukan yaitu di Kayuambon, sekitar jalan Putri Gunung, dan Alun-alun kota. Aku dan teman-teman yang lainnya sangat senang bisa menanam pohon. Karena dengan menanam pohon ini kita dapat membuat pemandangan lebih indah dan asri.
            Sebelum berangkat, kita semua dikumpulkan terlebih dahulu di lapangan upacara. Saat berkumpul kita semua diberi penjelasan saat akan menanam pohon nanti, lalu satu persatu siswa diberi satu bibit tanaman, 2 bambu, dan tali. Setelah semuanya sudah terbagi kita berangkat ke area yang sudah di tentukan. Aku dan teman-temanku mendapatkan bagian sekitar jalan Putri Gunung. Kita pun berjalan kaki untuk sampai ke sana. Karena tempatnya tidak terlalu jauh dari sekolah kita.

            Saat diperjalanan aku berjalan bersamaan dengan Fauziyyah, Resti, Miranti, Diona, Vicky, dan Farhan. Kita pun sempat mengobrol dan sesekali bercanda. Kebetulan saat itu kami berjalan di paling akhir karena saat pembagian tanaman tadi kita mendapat bagian terakhir.
“wah, bakalan kebagian lahan paling ujung” ucapku sambil melihat teman-teman yang lain sudah mendapatkan lahannya.
“yah, benerlah dipaling kita kebagiannya” ucap Resti sambil mencari lahan yang kosong.
Saat aku, Fauziyyah, Miranti, Diona, dan Vicky sudah mendapatkan lahan masing-masing. Resti dan Farhan masih belum mendapatkan lahan untuk mananam pohon.
“wah, masa ga dapet lahan” ucap Farhan dengan ekspresi sedih.
“udah aja, disini berdua-berdua” ucapku mencoba mencari solusi.
Tapi Resti dan Farhan memcoba mencari lahan dahulu. Lalu mereka kembali karna tidak mendapatkan lahan.
“ada yang kosong ga?” tanyaku sambil memulai akan menanam.
“ga ada” jawab Resti sambil kebingungan.
“ya udah, kamu sama aku, Farhan sama Vicky” ucapku kepada Resti.
Dan akhirnya aku dan Resti dilahan  yang sama, begitu pula Farhan dan Vicky.
            Walaupun tak mendapatkan lahan dan harus berdua denganku. Resti tetap senang dan anusias untuk menanam tanamannya. Hal itu membuat aku pun ikut bersemangat untuk menanam tanamannya. Saat akan menanam aku sempat bertanya kepada Resti.
“Res, bambunya di pasang dimana?” tanyaku kebingungan.
“di silangin aja” jawab Resti sambil menunjukannya.
“oh, oke” ucapku menutup pembicaraan.
            Kita berdua pun melanjutkan menanam tanamannya hingga selesai dengan cukup rapi.

“udah selesai, yu!” ajak Resti sambil membereskan alat yang dipakainya.
“oke, ayo” ucapku sambil berdiri dan berjalan.
            Setelah semua siswa selesai menanam kita semua kembali kesekolah untuk pengabsenan. Setelah selesai kita pun pergi pulang dan menunggu hari esok untuk kegiatan selanjutnya yaitu membersihkan sekitar halaman 3 desa yang telah di tentukan. Desa Lembang, Desa Jayagiri dan Desa Kayuambon.
***
            Dua hari kita lewati untuk membersihkan sekitar halaman desa. Kelas A-C di desa Jayagiri, kelas D-F di desa Lembang dan kelas G-I di desa kayuambon. Dan aku dan teman-teman mendapatkan bagian di desa Jayagiri. Aku bersyukur mendapatkan area yang dekat dengan sekolah, jadi aku tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk sampai dilokasi.
            Dua hari itu, kita lakukan dengan membersihkan area puskesmas desa Jayagiri dan sekitar jalanan. Kita melakukannya dengan mencabuti dan membersihkan rumpu-rumput liat yang ada di sekitarnya. Kita juga memungut dan mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di sekitarnya.
            Dan pada akhirnya kegitan itu berakhir pada hari rabu, cukup melelahkan dan merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Dari hari minggu sampai hari rabu, aku mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang sangat-sangat bermanfaat bagiku.
            Di mulai dari kita harus belajar untuk hidup sehat, menjaga lingkungan supaya tetap bersih. Ikut melestarikan lingkungan sekitar dengan menanam tanaman, dan semua manfaat itu menjadikan hidup ini lebih berwarna dan lebih indah. Dan kita juga membantu anak cucu kita kelak supaya dapat hidup nyaman seperti yang kita alami sekarang ini. Dan jika tidak kita yang peduli siapa lagi?.


SELESAI